PALU — Kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Palu ke-48 diwarnai dinamika penolakan dari musisi daerah. Grup band pop kenamaan asal Tawaeli, Palu, ADISTA, secara terbuka menyatakan sikap menolak tawaran manggung dalam rangkaian hajatan akbar ibu kota Sulawesi Tengah tersebut.
Keputusan mengejutkan itu diumumkan langsung oleh sang vokalis, Resar, melalui akun Instagram pribadinya pada Sabtu (26/9/2026). Alasan utama penolakan tersebut bermula dari ketidaksesuaian penawaran honorarium (budget) dari pihak panitia penyelenggara yang dinilai sangat jauh dari standar profesional band mereka.
Resar bahkan secara terang-terangan membandingkan jomplangnya nominal bayaran yang disiapkan panitia untuk musisi lokal dengan deretan artis nasional yang diundang memeriahkan HUT Kota Palu tahun ini.
“Kami di undang juga di HUT Kota tapi kami menolak untuk main di karenakan Buget nya tidak sesuai dengan harapan, jauh dari rate kami bayar artis besar ratusan juta lokalan bugetnya kaya tidak ada harganya, masih kecil kena biaya pajak lagi,” tulis Resar melalui akun Instagram @resaradista_, Sabtu (26/9/2026).
Profil Singkat ADISTA: Kebanggaan Musik Pop Asal Palu
Sebagai informasi, ADISTA merupakan salah satu band pop asal Tawaeli, Kota Palu, Sulawesi Tengah yang telah berhasil menorehkan jejak signifikan di kancah musik Tanah Air. Dikenal luas melalui platform digital, band ini sukses mencuri perhatian penikmat musik lewat melodi yang mudah diingat dan lirik yang menyentuh hati.
Daya tarik utama ADISTA terletak pada kemampuan mereka meracik lagu-lagu yang sangat relevan dengan pengalaman pendengar, terutama dalam tema percintaan, patah hati, dan penemuan diri yang menjadi ciri khas musik pop mainstream Indonesia.
ADISTA resmi dibentuk pada 14 Februari 2011 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pondasi utama band ini digawangi oleh dua personel inti, yakni Akbar sebagai gitaris dan Resar sebagai vokalis, yang bertanggung jawab penuh atas komposisi dan karakter vokal band. Dalam penampilan panggungnya, mereka didukung oleh Indar pada bass, Atu pada keyboard, dan Eky pada drum.
Nama “ADISTA” sendiri menyimpan kisah unik karena merupakan akronim dari “AKBAR DAN DIAN SALING CINTA”, gabungan nama Akbar dan mantan kekasihnya yang hubungannya kandas akibat tidak mendapat restu orang tua. Berbekal tekad kuat, Akbar dan Resar sempat merantau ke Jakarta membawa tiga lagu demo legendaris mereka, yakni “Saranghae”, “Ditinggal Lagi”, dan “Aku Tak Bisa”.
Pilih Manggung di Luar Kota
Mengingat rekam jejak nasional yang dimiliki, Resar menyayangkan minimnya apresiasi finansial bagi pelaku seni lokal di tanah kelahiran sendiri. Potongan pajak yang dibebankan pada honor yang sudah kecil kian memperkuat keputusan band pelantun lagu-lagu hits tersebut untuk mundur dari daftar pengisi acara.
Sebagai gantinya, ADISTA memilih untuk menerima tawaran manggung di luar daerah yang dinilai lebih menghargai profesionalisme kerja musisi lokal.
“Mending kitorang main di luar kota lebih di hargai,” tegas Resar menutup pernyataannya.
Sikap penolakan ini sekaligus menjawab tanda tanya penggemar mengenai absennya ADISTA dalam susunan penampil rangkaian perhelatan HUT Kota Palu ke-48 yang dijadwalkan berlangsung meriah sepanjang 25 hingga 30 September 2026.(*)










