PALU — Polemik penolakan undangan manggung oleh grup band lokal asal Palu, Adista, dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu berbuntut panjang. Isu ini mencuat setelah pihak band meluruskan alasan di balik penolakan tersebut yang ramai disorot warganet di media sosial.
Menanggapi polemik yang memicu pro dan kontra di tengah masyarakat, penasehat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Sulawesi Tengah, Takbir Larekeng, angkat bicara. Ia menyoroti kinerja Event Organizer (EO) yang dinilai kurang kreatif dalam mengelola anggaran dari pemerintah daerah.
Menurut Takbir, pihak EO seharusnya mampu berpikir kreatif dengan menggandeng sponsor luar untuk mendongkrak pendanaan acara, alih-alih memangkas hak finansial para musisi lokal. Ia mencontohkan langkah sukses Kabupaten Donggala yang piawai melibatkan pihak ketiga sehingga honorarium penampil lokal bisa menembus angka layak hingga Rp10 juta.
“Pemerintah daerah sebagai kuasa anggaran seharusnya menitipkan misi keberpihakan, prioritas, dan apresiasi buat talenta lokal pada EO tersebut. Jangan sampai EO terlalu dilepas hingga pertimbangan untung rugi atau laba berkurang jadi patokan utama,” tegas Takbir, Minggu (27/9/2026).
Klarifikasi Band Adista: Bukan Soal Besar Kecilnya Nilai, tapi Operasional Tim
Sebelumnya, personel band Adista, Akbar, memberikan klarifikasi terbuka melalui akun media sosialnya untuk meredam kegaduhan publik. Ia menegaskan bahwa keputusan menolak undangan tersebut murni karena kalkulasi finansial operasional tim yang tidak mencukupi, bukan karena merasa sombong atau ingin disetarakan dengan artis ibu kota.
Akbar menceritakan, pihak panitia awalnya menghubungi manajer Adista, Achid, pada 25 September lalu tanpa menanyakan terlebih dahulu daftar tarif (rate card) resmi band. Panitia langsung menyodorkan undangan beserta nominal fee bersih sebesar Rp2.940.000 setelah dipotong pajak 2 persen dari total anggaran Rp3.000.000.
Pihaknya sempat mencoba membuka ruang negosiasi, namun EO berdalik bahwa besaran tersebut merupakan standar baku bagi seluruh band lokal Palu. Adista lantas memutuskan mundur secara baik-baik karena perhitungan pengeluaran riil justru berujung minus.
“Tim Adista ada 12 orang, terdiri dari 5 personel, 5 kru, 1 soundman FOH, dan 1 manajer. Upah kru saja kita bayar Rp500.000 dikali 5 orang sudah Rp2.500.000, ditambah soundman Rp1.000.000. Total kebutuhan kru dan penunjang saja sudah Rp3.500.000,” beber Akbar dalam keterangannya.
Dengan besaran tawaran panitia sebesar Rp2.940.000, hitung-hitungan finansial tersebut dipastikan minus dan bahkan belum mencakup hak honorarium untuk kelima personel band. Padahal, pihak Adista mengeklaim telah memberikan diskon harga khusus lantaran manggung di kota kelahiran mereka sendiri.
Klarifikasi ini sekaligus menepis tudingan miring sebagian netizen yang sempat melabeli band pelantun lagu hits tersebut sebagai pihak yang “tidak tahu diri”. Adista menegaskan bahwa mereka hanya menuntut bentuk penghargaan yang layak bagi para pekerja seni dan kru di balik layar yang turut berdarah-darah menyukseskan industri musik lokal.(fma)










