Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Tampilkan Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”, 150 Emak-Emak Siap Memeriahkan HUT Kota Palu ke-48

63
×

Tampilkan Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”, 150 Emak-Emak Siap Memeriahkan HUT Kota Palu ke-48

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PALU — Suasana semarak menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu kian terasa. Sebanyak 150 emak-emak dari berbagai latar belakang profesi bersiap menyuguhkan penampilan spesial dalam pembukaan perayaan akbar yang jatuh pada Minggu, 27 September 2026.

Ratusan kaum hawa tersebut tergabung dalam komunitas Palu Mama Menari, didampingi unsur Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Palu, Bhayangkari, serta perwakilan ibu-ibu PKK dari berbagai kelurahan se-Kota Palu.

Example 300x600

Ketua Palu Mama Menari, Fanty J. Hafid, mengungkapkan bahwa para peserta terdiri atas ibu rumah tangga, pegawai swasta, aparatur sipil negara (ASN), hingga para istri pejabat dan anggota Polri yang antusias mendedikasikan waktu mereka untuk seni budaya.

“Saat ini persiapannya sudah 90 persen karena kami sudah latihan sejak pekan lalu dan sore tadi sudah gladi bersih di halaman Kantor Wali Kota Palu,” ujar Fanty J. Hafid, Jumat (25/9/2026).

Sepanjang sepekan terakhir, persiapan intensif terus digeber. Di bawah arahan koreografer profesional Christine Cahyani Larekeng, barisan penari berlatih dengan penuh disiplin demi mencapai keselarasan gerak. Sekretaris Daerah Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, S.Sos., bahkan turun tangan langsung memantau jalannya sesi latihan guna memastikan penampilan berjalan sempurna.

Makna Mendalam di Balik Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”

Pada puncak acara pembukaan nanti, gabungan penari ini bakal membawakan sebuah persembahan istimewa bertajuk Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”.

Karya seni garapan penata tari Christine Cahyanie Larekeng, Ivonda Sovia, dan Novi Angraini, dengan iringan gubahan musik karya Juli Idin Lanja ini membawa pesan filosofis yang kuat tentang kaum perempuan.

Tari “Roso Nu Mombine” merefleksikan harmoni antara kelembutan dan kekuatan batin seorang perempuan dalam menghadapi dinamika kehidupan, termasuk bertahan di tengah ketimpangan relasi kuasa. Melalui kelenturan gerak yang anggun, tarian ini memancarkan keteguhan hati serta ketulusan jiwa perempuan dalam merengkuh keberanian dan ruang ekspresi diri.

Uniknya, pementasan ini akan menggunakan kipas sebagai properti utama gerakan. Kipas tidak sekadar menjadi alat estetika penunjang koreografi, melainkan menyimbolkan kesejukan, kesabaran, kelembutan, serta keteguhan batin perempuan.

Lebih istimewa lagi, kipas-kipas yang digunakan dirancang secara khusus untuk merepresentasikan 16 motif wastra nusantara khas Kota Palu. Perpaduan gerak tari dengan ragam motif kain tradisional ini menjelma sebagai wujud nyata pelestarian budaya lokal, di mana tradisi, kreativitas perempuan, dan perlindungan warisan budaya berpadu dalam keindahan seni pertunjukan.

Sekilas tentang latar belakangnya, komunitas Palu Mama Menari diinisiasi oleh anggota DPRD Kota Palu Mutmainah Korona selaku pendiri, bersama Fanty Juliarsi Hafid selaku ketua, dan Christine Cahyani Larekeng sebagai pelatih. Komunitas perempuan Tanah Tadulako ini dibentuk sebagai ruang aman (safe space) sekaligus sarana pemulihan diri (self-healing) bagi perempuan dari berbagai latar belakang lewat ekspresi seni tari lokal.(*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *