Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kesehatan

Waspada! Kasus TBC di Kota Palu Mengkhawatirkan, Titik Penularan Baru Banyak Ditemukan di Kafe

128
×

Waspada! Kasus TBC di Kota Palu Mengkhawatirkan, Titik Penularan Baru Banyak Ditemukan di Kafe

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Example 468x60

PALU — Eskalasi kasus penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Kota Palu menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan dan telah masuk dalam kategori darurat. Menyikapi ancaman serius bagi kesehatan publik tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mengambil langkah taktis melalui peluncuran program inovatif bertajuk Berani Magaya (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga).

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM Untad, Dr. Moh. Jusman Rauf, S.KM., M.Kes., mengungkapkan bahwa tingkat penularan TBC di ibu kota Sulawesi Tengah ini menuntut kewaspadaan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan survei mendalam yang dilakukan civitas akademika FKM Untad di lapangan, ditemukan fakta mengejutkan mengenai titik rawan penularan baru yang kerap luput dari perhatian.

Example 300x600

“Waspada penyebaran TBC di kafe karena biasanya penggunaan sendok yang sama, atau ludah yang menyebar saat duduk nongkrong bersama di kafe,” ungkap Jusman Rauf saat memaparkan hasil evaluasi program kepada awak media di kampus FKM Untad, Sabtu (26/9/2026).

Pemaparan tersebut turut didampingi oleh Dekan FKM Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Ahmad Ramadhan, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum dr. Imade Tangkas, serta Sekretaris Dekan Uci Rosmala Nur.

Ribuan Mahasiswa Diterjunkan Putus Rantai Penularan

Program “Berani Magaya” mengusung misi kemanusiaan yang masif, yakni mendampingi pasien TBC hingga tuntas sembuh total sekaligus memutus mata rantai penularan kepada keluarga yang melakukan kontak erat. Gerakan kolaboratif ini bahkan mendapat apresiasi tingkat nasional, yang peluncurannya turut dihadiri oleh tiga wakil menteri sekaligus, yakni Wakil Menteri Dalam Negeri, Wakil Menteri Kesehatan, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi.

FKM Untad telah menerjunkan sebanyak 1.073 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi—meliputi Untad, Unismuh Palu, Poltekkes Kemenkes Palu, STIK, hingga Politeknik Palu. Para mahasiswa ini disebar secara merata ke Kota Palu, Kabupaten Sigi, Toli-Toli, dan Poso, di mana aktivitas pengabdian ini dikonversi setara dengan beban akademik 5 SKS dari dua mata kuliah tanpa dipungut biaya.

Berdasarkan data statistik kesehatan, akumulasi kasus TBC di Sulawesi Tengah telah menembus angka lebih dari 8.000 kasus. Khusus di Kota Palu sendiri, jumlahnya tercatat melampaui 2.000 kasus, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Talise yang berdampingan langsung dengan kawasan kampus Untad.

Tantangan Lapangan dan Pola Penularan Usia Produktif

Dari hasil investigasi mahasiswa pendamping, sebagian besar warga yang terjangkit TBC berada pada rentang usia produktif, sementara kelompok lanjut usia nihil laporan kasus. Tugas para mahasiswa dibagi menjadi dua klaster utama: mendampingi pasien aktif agar disiplin minum obat setiap hari hingga sembuh, serta mengawasi keluarga atau orang yang kontak erat agar mengonsumsi Terapi Pencegahan TBC (TPT) sekali sepekan.

Kendati demikian, para mahasiswa sempat menghadapi sejumlah dinamika unik di lapangan. Edukasi kepada balita berusia dua tahun untuk menelan obat pencegahan berukuran besar menjadi salah satu tantangan tersendiri. Selain itu, faktor lingkungan yang berdebu terbukti memperparah tingkat keparahan (morbiditas) penderita TBC, berbanding terbalik dengan lingkungan yang memiliki sirkulasi udara optimal.

Fakta menarik lainnya diungkapkan terkait karakteristik sosial penderita. Kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas umumnya memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi, namun mereka cenderung menutup diri dan kerap meminta sesi pendampingan dilakukan secara privat di kafe-kafe.

“Persoalan kemudian adalah mahasiswa kita ini kurang dana untuk mentraktir dia di kafe, begitu. Pada kelompok menengah ke bawah, itu sangat enak sekali mahasiswa kami mendatangi rumahnya untuk diskusi, memberikan edukasi, bagaimana mencegah dan bagaimana memutus rantai penularan TB tersebut,” tutur Jusman.

Melalui gerakan “Berani Magaya”, FKM Untad optimis laju penyebaran TBC di Sulawesi Tengah dapat ditekan secara signifikan, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat dari tingkat keluarga hingga ruang publik.(*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *